Forum Herbal - Komunitas Herbal Indonesia tentang kesehatan alami, kegunaan tanaman obat, dan informasi penjual herbal di indonesia.
Berita: Informasi Terlengkap seputar Herbal dan manfaatnya
 
*
Selamat datang, Pengunjung. Silahkan masuk atau mendaftar. Pebruari 06, 2012, 03:46:24


Masuk dengan nama pengguna, kata sandi dan lama sesi


Halaman: 1   Turun
  Cetak  
Pembuat Topik: Pembudidayaan Mahkota Dewa  (Baca 1748 kali)
0 Anggota dan 1 Pengunjung melihat topik ini.
indoherbal
Administrator
Jr. Member
*****
Offline Offline

Tulisan: 73


Lihat Profil Email
« pada: April 06, 2010, 08:48:50 »

Bagian-bagian Pohon

Pohon mahkota dewa termasuk anggota famili Thymelaecae. Sosoknya berupa pohon perdu. Tajuk pohon bercabang-cabang. Ketinggiannya sekitar 1,5—2,5 meter. Namun, jika dibiarkan, bisa mencapai lima meter. Mahkota dewa bisa sampai berumur puluhan tahun. Tingkat produktivitasnya mampu dipertahankan sampai usia 10 hingga 20 tahun.

Pohon mahkota dewa terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan buah. Akarnya berupa akar tunggang. Panjang akarnya bisa sampai 100 cm. Akar ini belum terbukti bisa digunakan untuk pengobatan.

Batangnya terdiri dari kulit dan kayu. Kulitnya berwarna cokelat kehijauan, sementara kayunya berwarna putih. Batangnya ini bergetah. Diameternya mencapai 15 cm. Percabangan batang cukup banyak. Batang ini secara empiris terbukti bisa mengobati penyakit kanker tulang.

Daun mahkota dewa merupakan daun tunggal. Bentuknya lonjong-langsing-memanjang berujung lancip. Sekilas menyerupai bentuk daun jambu air, tetapi lebih langsing. Teksturnya pun lebih liat. Warnanya hijau. Daun tua berwarna lebih gelap daripada daun muda. Permukaannya licin dan tidak berbulu. Permukaan bagian atas berwarna lebih tua daripada permukaan bagian bawah. Pertumbuhannya lebat. Panjangnya bisa mencapai 7—10 cm, dengan lebar 3—5 cm. Daun mahkota dewa termasuk bagian pohon yang paling sering dipakai untuk pengobatan. Pemanfaatannya dilakukan dengan cara merebusnya. Penyakit yang dapat disembuhkan antara lain lemah syahwat, disentri, alergi, dan tumor.

Bunga mahkota dewa merupakan bunga majemuk yang tersusun dalam kelompok 2—4 bunga. Pertumbuhannya menyebar di batang atau ketiak daun. Warnanya putih. Bentuknya seperti terompet kecil. Baunya harum. Ukurannya kira-kira sebesar bunga pohon cengkeh. Bunga ini keluar sepanjang tahun atau tak kenal musim, tetapi paling banyak muncul pada musim hujan. Bunga mahkota dewa belum terbukti dapat digunakan untuk pengobatan.

Buah mahkota dewa merupakan ciri khas pohon mahkota dewa. Bentuknya bulat, seperti bola. Ukurannya bervariasi, dari sebesar bola pingpong sampai sebesar apel merah. Penampilannya tampak menawan, merah menyala. Pada malam hari, jika terkena sinar lampu, tampak seperti berkilau. Apalagi jika sudah tua. Penampilan buah mahkota dewa memang tampak merangsang selera untuk memakannya. Namun, hati-hati. Memakannya berarti harus bersiap-siap untuk setidaknya merasakan mabuk atau pusing. Buah ini mampu tumbuh dengan cukup lebat. Buah mahkota dewa terdiri dari kulit, daging, cangkang, dan biji.

Saat masih muda, kulitnya berwarna hijau. Namun, saat sudah tua, warnanya berubah menjadi merah marun. Ketebalan kulit sekitar 0,5—1 mm. Daging buah berwarna putih. Ketebalan daging bervariasi, tergantung pada ukuran buah. Dalam pengobatan, kulit dan daging buah tidak dipisahkan. Jadi kulit tidak perlu dikupas dulu. Saat masih muda, rasa kulit dan daging ini sepet-sepet pahit. Namun, saat sudah tua, rasanya berubah menjadi sepet-sepet agak manis. Jika dimakan langsung akan menimbulkan bengkak di mulut, sariawan, mabuk, bahkan keracunan. Karenanya, tidak dianjurkan untuk memakannya langsung. Dianjurkan pemanfaatan kulit dan daging buah dengan cara merebusnya terlebih dahulu. Kulit dan daging buah ini antara lain mampu mengobati flu, rematik, sampai kanker rahim stadium akhir. Kulit dan daging buah juga termasuk bagian pohon yang paling sering digunakan untuk pengobatan.

Cangkang buah adalah batok pada biji. Jadi, cangkang ini bagian buah yang paling dekat dengan biji. Cangkang buah berwarna putih. Ketebalannya bisa mencapai 2 mm. Rasa cangkang buah juga sepet-sepet pahit, tetapi lebih pahit daripada kulit dan daging. Juga tidak dianjurkan untuk memakannya langsung. Soalnya, dapat menyebabkan mabuk, pusing, bahkan pingsan. Pemanfaatannya juga dianjurkan dengan cara merebusnya. Cangkang ini terbukti dapat digunakan untuk pengobatan, antara lain dapat menyembuhkan penyakit kanker payudara, kanker rahim, sakit paru-paru, dan sirosis hati. Seperti daun dan kulit serta daging buah, cangkang juga termasuk bagian pohon yang paling sering digunakan untuk pengobatan. Cangkang ini lebih mujarab dibandingkan dengan kulit dan daging buah.

Seperti bentuk buahnya, biji buah juga bulat. Warnanya putih. Diameternya mencapai 2 cm. Biji ini sangat beracun. Jika tergigit akan menyebabkan lidah kaku, mati rasa, dan badan meriang. Karenanya, biji ini hanya digunakan untuk obat luar sebagai obat oles. Biji ini terbukti dapat digunakan untuk mengobati aneka penyakit kulit. Pemanfaatan biji dilakukan dengan cara mengeringkan dan menyangrainya sampai gosong.

Sangat tidak dianjurkan untuk memakan buah mahkota dewa mentah-mentah. Soalnya, akibat yang ditimbulkannya cukup serius. Di Depok pernah ada yang mencoba memakan buahnya begitu saja. Hasilnya, orang itu langsung mabuk. Di Yogyakarta juga pernah ada yang mencoba menelan bijinya mentah-mentah. Hasilnya lebih parah. Dia merasakan tubuhnya sangat panas, seperti terbakar api, dan buang-buang air terus-menerus. Namun, setelah tidur, keesokan harinya, tubuhnya terasa sangat segar. Memang, hanya orang-orang tertentu yang merasa tidak bermasalah dalam mengonsumsi mahkota dewa mentah-mentah.

Ibu-ibu yang hamil muda dilarang mengonsumsi mahkota dewa. Soalnya, kemampuan mahkota dewa yang bisa meningkatkan kontraksi otot rahim sangat berbahaya bagi kondisi kehamilan.

Efek yang biasanya muncul setelah mengonsumsi mahkota dewa adalah serangan rasa kantuk. Efek seperti ini normal-normal saja. Efek yang lain adalah mabuk. Untuk menghilangkan efek ini, perbanyaklah minum air putih. Dosis mahkota dewa pun perlu dikurangi jika meminumnya lagi. Jika mabuk lagi, hentikan pemakaian sementara.

Untuk penyakit-penyakit dalam dan sangat serius seperti misalnya kanker rahim setelah mengkonsumsi Mahkota Dewa badan bisa panas dingin dan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah yang berbau busuk. Hal ini merupakan proses membersihkan penyakit.

Awalnya, selain sebagai tumbuhan obat, mahkota dewa berfungsi sebagai pohon peneduh. Karena pohon ini juga tampak indah, terutama bunga dan buahnya, banyak orang yang memfungsikannya sebagai pohon hias. Meskipun indah, pohon ini sebenarnya mengandung racun. Racun ini terutama tersimpan di dalam bijinya. Karenanya, sikap berhati-hati perlu dikembangkan dalam menanam, mengonsumsi, dan mengolah hasil pohon ini. Bahkan setelah menjadi ramuan obat sekalipun, jika pemakaiannya melebihi dosis yang dianjurkan, efek-efek negatif yang tidak diharapkan bisa tetap muncul.

Uniknya, menurut seorang peneliti dari Gajah Mada, tanaman yang beracun biasanya justru sangat bagus untuk menanggulangi tumor dan kanker ganas. Analoginya, ular kobra terkenal dengan bisanya yang sangat mematikan, tetapi darahnya sangat manjur untuk pengobatan. Sebetulnya, bukan hanya mahkota dewa yang beracun. Beberapa pohon obat lain pun beracun. Dalam buku Ramuan Tradisional untuk Pengobatan Kanker, dr. Setiawan Dalimarta menuliskan dua belas pohon beracun yang manjur untuk menyembuhkan kanker. Pohon-pohon itu adalah bidara laut, tapak dara, ceguk, daun encok, jarak, kamboja merah, kayu manis cina, ki tolod, leunca, pacar air, sikas, dan tali putri. Selain itu tanaman keladi tikus juga amat beracun.
Masuk
Halaman: 1   Naik
  Cetak  
 
Lompat ke:  

Didukung oleh MySQL Didukung oleh PHP Powered by SMF 1.1.8 | SMF © 2006-2009, Simple Machines LLC

Valid XHTML 1.0! Valid CSS! Dilber MC Theme by HarzeM
Halaman dibuat dalam 0.252 detik dengan 19 permintaan.