Home Profil Tentang Herbal testimoni berita Hubungi Kami Links Indonesiaherbal.com
 

Budidaya Jernang Dikembangkan

Jambi, Kompas - Mengantisipasi kepunahan tanaman konservasi jernang (Daemonorops Sp) seiring maraknya pembukaan liar hutan, masyarakat mulai mengembangkannya di Desa Lamban Sigatal dan Sepintun, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Budidaya juga diharapkan akan medongkrak kembali harga getah jernang yang sempat anjlok hingga 50 persen. Kebutuhan negara asing akan getah jernang atau dikenal dalam perdagangan internasional sebagai dragon blood, cukup tinggi. China misalnya, membutuhkan 400 ton getah jernang per tahun, untuk diolah sebagai bahan baku pewarna dalam industri porselin, marmer, dan bahan penyamakan kulit. Sejauh ini sentra penghasil jernang, Sumatera dan Kalimantan, baru dapat memasok 27 ton per tahun. Meski tingkat permintaan tinggi, jernang malah semakin sulit didapatkan karena banyak hutan menggundul.

"Sekarang ini, kami harus masuk ke hutan lebih dalam lagi. Satu minggu lebih mencari, baru bisa mendapatkan satu atau dua kilogram jernang," tutur Rudi, Kepala Dusun II, Desa Sepintun, Rabu (24/10).

Menurut Rudi, selain makin sulit didapatkan, harga jernang dalam negeri justru makin anjlok. Dua tahun lalu, getah jernang masih dihargai Rp 1,2 juta per kg. Awal tahun ini harganya turun menjadi sekitar Rp 700.000, namun sejak pertengahan tahun ini makin turun menjadi hanya sekitar Rp 300.000. "Sekarang harga getah jernang turun terus. Ekonomi kami makin sulit, karena selama ini jernang adalah sumber pencaharian utama kami," tuturnya.

Menurut Rudi, masyarakat tengah melaksanakan budidaya tanaman jernang. Melalui usaha ini, diharapkan ekonomi masyarakat dapat terangkat. Keberadaan tanaman ini diharapkan juga dapat tetap dipertahankan.

Hermansyah Sormin, Direktur Gita Buana, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang tengah memberdayakan masyarakat di dataran rendah Kabupaten Sarolangun, mengemukakan, budidaya jernang dilaksanakan di Sepintun dan Lamban Sigatal.

Saat ini, menurut staf Gita Buana Program Hutan Dataran Rendah Wein Arifin, sudah 3.100 batang selesai proses pembibitan melalui teknik penyekapan. Melalui teknik ini, masa produktif tanaman dapat dipercepat.

Kawasan hutan di Desa Lamban Sigatal adalah bagian dari zona penyangga blok hutan Bukit Bahar Tajau Pecah (BBTP). Masyarakat sejak lama menikmati hasil hutan kayu dan nonkayu. Pengambilan kayu baik yang dilakukan perusahaan maupun masyarakat sangat eksploitatif, bahkan sumber daya hutan nonkayu ikut musnah. Ironisnya, eksploitasi hutan ternyata tak memberi kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Paling diuntungkan dalam praktik ini pemilik modal atau tauke. (ITA)

Untuk informasi lengkap tentang herbal..
Kunjungi : http://www.indonesiaherbal.com